-->

Rabu, 08 Februari 2012

ULAMA, MACAM-MACAM ULAMA, PENAMPILAN ULAMA DAN KEPEMIMPINAN ULAMA

   A. PENGERTIAN ULAMA’
Dalam bahasa Arab kata Ulama’ merupakan bentuk jamak dari ’Aalim atau ’Aliim. Oleh karena itu Ulama biasanya diterjemahkan : ”Orang-orang yang amat luas ilmunya”. Di dalam Al Qur’an disebutkan :
إنمايخشى الله من عبده العلمؤ (فاطر : ۲۸)
Artinya : ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah Ulama”. (Fathir : 28)
Dari keterangan di atas, dapat diambil pengertian bahwa Ulama’ adalah orang yang luas ilmunya dan dengan ilmu itu ia memiliki kadar ketakwaan atau khosyyah (takut) yang tinggi. Di samping itu, juga masih ada pengertian-pengertian yang lain, misalnya :
1.    Imam ibnu Katsir
العالم من خشي الرحمن ورغب فيما رغب الله فيه وزهد فيما سخط الله
Artinya : ”Orang alim adalah orang yang merasa khosyyah kepada Allah, senang terhadap hal-hal yang disenangi Allah serta menghindarkan diri dari segala hal yang mendatangkan murka Allah
2.    Imam as Suyuti
العالم من خشي الله
Artinya : ”Orang alim adalah orang yang merasa khosyyah (takut) kepada Allah
كفى بالمرء علما أن يخشى الله ، وكفى بالمرء جهلا أن يعجب بعمله
Artinya : ”Cukup membuktikan kealiman seseorang lantaran khosyyah (takut) kepada Allah, dan cukup membuktikan kebodohan seorang lantaran mengagumi amalnya sendiri
Dengan demikian menjadi jelas bahwa kekhususan (ciri khas) Ulama’ adalah rasa khosyyah atau ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa itu sediri hanya muncul dari buah ilmunya yang luas, bukan dari spealisasi jenis ilmu yang ia miliki. Dengan demikian, orang yang sama sekali tidak memiliki ilmu syari’ah (ilmu agama) atau memiliki akan tetapi Cuma sedikit, jelas tidak mungkin memiliki rasa khosyyah (takut) dan takwa kepada Allah. Orang tersebut kurang mengenal Allah SWT, bagaimana dapat takwa? Lebih jauh Imam as Suyuti mengatakan :
العالم بالله وبأمر الله الﺬي يخشى الله ويعلم الحدود والفرئض
Artinya : ”Orang yang alim kepada Allah dan urusan Allah adalah orang yang takwa kepada Allah dan mengetahui batas-batas serta hal yang difardlukan
Dalam kenyataanny memang ada rasa khosyyah dan takwa yang tumbuh bukan atas dasar ilmu yang luas. Akan tetapi, takwa seperti ini bukanlah ketakwaan Ulama’. Imam Ghazali mengatakan :
وعالم بالله لابأمرالله ولابأيام الله وهم عموم المؤمنين
Artinya : ”Orang yang alim tentang Allah tetapi alim tentang perkara urusan Allah juga tidak alim tentang hari-hari Allah, mereka adalah orang mukmin pada umumnya

B.   MACAM-MACAM ULAMA’
Dari segi mental yang dimiliki. Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin menggolongkan Ulama’ menjadi dua macam, yaitu :
1.    Ulama’ Dunia, yaitu Ulama’ yang dengan ilmunya itu ia bermaksud memperoleh kenikmatan dunia atau berkeinginan meraih jabatan duniawi yang setinggi-tingginya. Allah SWT, menyebutkan sifat Ulama’ dunia sebagai berikut :
واﺫاخﺬ الله ميثاق الﺬين اوتوااكتب لتبيننه للناس ولاتكتمونه فنبﺬوه وراء ظهورهم وشتروابه ثمنا قليلا (ال عمران : ۱۸۷)
Artinya : ”Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) : ”Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan kamu menyembunyikannya”, kemudian mereka melemparkan janji itu kebelakang punggung mereka dan menukarkannya dengan harga yang (hanya) sedikit…….” (Ali Imran : 187)
Jika dirujukkan pada pengertian Ulama’ seperti yang telah kita ketahui di atas, maka sebetulnya Ulama’ di dunia ini tidak termasuk kategori Ulama’ lagi, sebab telah hilang sifat ketakwaan dari dirinya. Mungkin orang seperti ini lebih tepat disebut orang yang menjual belikan agama.
2.    Ulama’ Akhirat, yaitu Ulama’ dalam arti yang sebetulnya. Dapat juga disebut Ulama’ sejati. Menurut Imam Al Ghazali ada beberapa tanda Ulama’ sejati, diantaranya :
a.    Mengutamakan kepentingan akhirat.
b.    Menyesuaikan antara ucapan dan perbuatannya. Dia tidak akan memerintahkan suatu kebajikan melainkan dia sendiri melakukannya terlebih dahulu.
c.    Berusaha sungguh-sungguh mencari ilmu yang bermanfaat di akhirat dan menghindari ilmu yang kurang bermanfaat.
d.    Hidupnya sederhana.
e.    Menghindari banyak bergaul dengan penguasa.
f.     Tidak gegabah memberikan fatwa.
g.    Sebagian besar perhatiannya diarahkan menuju pembinaan keluhuran budi (termasuk muroqobah dan mujahadah).
h.    Sungguh-sungguh dalam memperkuat keyakinan agama dalam hatinya.
i.      Prihatin, rendah hati, suka diam, dan wajahnya memantulkan sinar yang membuat orang ingat kepada Allah.
j.      Menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat mengacaukan iman.
k.    Mencari ilmu atas dasar hati suci dan mengamalkannya atas dasar hati nurani.
l.      Menjauhkan diri dari perbuatan bid’ah.
C.   PENAMPILAN ULAMA’
Sesuai dengan tanda-tanda keUlama’an di atas, maka Ulama’ akan tampil dalam wujud-wujud :
1.    Ulama’ adalah orang yang takwa kepada Allah. Ketakwaannya akan mengantarkan dirinya menjadi orang mulia dihadapan Allah (Al Hujarat : 133)
2.    Ulama’ adalah insane ilmiah sejati yang konsekuen mengamalkan ilmunya.
3.    Ulama’ menjadi suri tauladan dan contoh kehidupan yang utuh. Seimbang antara kemampuan lahiriah dan batiniah.
4.    Ulama’ adalah seorang pembangun dan Pembina mental yang mulia.
Apabila Ulama’ ini dilihat dalam kehidupan sehari-hari maka akan terwujud sebagai berikut :
1.    Pembangunan dan pembinaan mental yang dilakukannya timbul dengan sendirinya sebagai manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat keUlama’an tersebut dalam tanda-tanda Ulama di atas (poin B : a, g, h, i, dan j).
2.    Fatwa Ulama’ disampaikan secara hati-hati dan waspada (poin B : f). fatwa tersebut juga untuk dirinya sendiri (poin B : b). Dampak dari sikap ini bashar (mata) bagi penerima fatwa dapat menyaksikan dan bashirah (mata-hati)-nya dapat pula menyerapnya. Maka menjadi mudahlah fatwa tersebut diterima dan dilaksanakan. Kalam hikmah menyebutkan :
إﺫاخؤجت الكلمة من القلب وقعت فى القلب
Artinya : ”Apabila perkataan itu keluar dari hati maka akan diterima oleh hati pula
3.    Ilmunya mengandung manfaat yang besar (poin B : c) dan bersifat suci (poin B : k) kemudian ilmu tersebut memancar pada tindak tanduk dan perilakunya (poin B : i). ilmunya disampaikan secara tulus, sederhana dan obyektif (poin B : d dan e).

D.   KEPEMIMPINAN ULAMA’
Secara pribadi kehidupan manusia selalu diliputi dengan berbagai persoalan. Walaupun banyak persoalan yang sudah dapat mereka selesaikan atas dasar petunjuk akalnya, namun tetap saja ada problem-problem dan ketimpangan yang tidak dapat diselesaikan. Lebih-lebih terhadap persoalan-persoalan yang bersifat spiritual. Disinilah manusia memerlukan agama. Disamping itu, untuk memecahkan persoalan yang dihadapi manusia juga masih membutuhkan pertolongan dari orang lain. Dia membutuhkan seorang pemimpin yang arif, jujur, adil dan bijaksana.
Sampai disini tampak jelas dua macam kebutuhan pokok setiap manusia, yaitu :
1.    Agama yang dianut.
2.    Pemimpin yang jujur dan adil
Agama pasti sulit tumbuh ditengah-tengah masyarakat yang tidak ada pemimpin syari’atnya. Bagi masyarakat yang religious tetapi disitu tidak ada pemimpinnya, tentu akan terjadi letupan dan konfrontasi disana-sini. Untuk masyarakat religious seperti ini –sebagai konsekuensi sosiologis dalam mewujudkan hak demokrasi mereka—haruslah memilih ulama sebagai pemimpin mereka, atau paling tidak memilih pemimpin yang diduga bernafaskan Ulama’. Hal ini disebabkan sedikitnya oleh dua hal :
1.    Nasehat Ulama’ kepada mereka sangat penting. Malahan nasehat Ulama’ sering jadi kata pemutus.
2.    Adanya respon masyarakat terhadap hal-hal yang bersifat inovatif –baik berupa ide atau system—selalu berpijak dari titik pangkal yang bersifat normative
Di dukung dengan syarat-syarat yang lain, seorang Ulama’ pastilah berada pada posisi yang mempunyai kewenangan dan secara mudah dapat menduduki setiap strata sosial masyarakatnya. Dari sini, mereka akan berfungsi sebagai pemain penting dalam memengaruhi pendapat, cara berpikir, bahkan perilaku warganya. Orang seperti ini dilihat dari fungsinya disebut pemimpin opini (opinion leader) dilihat dari aspek terjadinya disebut pemimpin kharismatik (charismatic leader) dan dilihat dari cara memimpinnya disebut pemimpin persuasive (persuasive leader).
Memang Ulama’ adalah guru besar yang berhak untuk diikuti dan ditaati juga dimuliakan dan dihormati. Diantara hamba yang ’ditakuti’ oleh Allah hanyalah Ulama’. Walaupun tidak berarti Allah SWT, takut dalam arti hakiki (sebenarnya), namun hal ini cukup menunjukkan adanya penghargaan Allah yang sangat tinggi kepada Ulama’. Demikian inilah penafsiran yang diberikan oleh Imam An Naisaburi :
لايعظم الله ولايجل من الرجال إلاالعلماء
Artinya : ”Allah tidak berkenan mengagunkan dan menghormati kepada manusia melainkan hanya kepada Ulama”.
لولم يكن العلماء أولياء لله فليس لله ولي
Artinya : ”Kalau Ulama’ yang mengamalkan ilmunya itu bukan wali maka tidak ada seseorangpun yang namanya wali Allah”.

Sumber   : KH. Ali Ma'shum. 1995. Ajakan Suci : Pokok-pokok Pikiran Tentang Nahdlatul Ulama', Pesantren dan Ulama'. Cetakan Kedua. Pustaka Pelajar : Djogjakarta

Tidak ada komentar: